Untuk kamu,
Yang sempat singgah.
Apa kabar?
Lama tak jumpa. Jangankan dengan sengaja berjumpa. Tak sengaja pun
kita tak pernah, seakan bumi tidak mengizinkan kita untuk berpijak di
tanah yang sama. Mungkin kita akan berjumpa di lain waktu. Entah itu
di pernikahanmu, atau di pernikahanku. Atau mungkin di pernikahan
kita? Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku hanya bergurau.
Mungkin jika
kamu membaca ini, di benakmu akan timbul pertanyaan, kenapa aku
menulis ini? Jika kamu berpikiran karna aku ingin menarik
perhatianmu, sama sekali bukan. Aku menulis ini, hanya karna saat ini
aku merasakan rindu. Rindu yang biasa dijumpai oleh setiap manusia.
Rindu yang manusiawi. Tak pernahkah kau merindukanku? Aku harap kau
merasakannya, walau hanya sedetik. Setidaknya kau ingat bagaimana
susahnya berlari menggapai dan mudahnya pergi berlalu melepaskan.
Cinta kita
hanyalah cinta anak-anak. Cinta monyet. Cinta yang tumbuh di dalam
sebuah kotak sempit yang bernama Sekolah. Cinta yang terus tumbuh
karena memandangi diam-diam dari kejauhan. Cinta yang terus tumbuh
karena tak sengaja berpapasan lalu saling tersenyum karena malu nya.
Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap kali namamu
terdengar di telingaku. Manis bukan? Bahkan aku masih bisa merasakan
kebahagiaannya, saat tidak sengaja teringat masa-masa itu.
Aku masih
ingat betapa lucunya kau saat menatapku dari kejauhan. Lalu kau salah
tingkah saat diriku tiba-tiba saja sadar akan dirimu yang sedang
sibuk menatapku. Aku juga masih ingat betapa lucunya kamu saat
berkali-kali kau memanggilku lalu ketika aku bertanya “ada apa?”
kau hanya terdiam. Menahan malu. Lalu akhirnya kau menjawab “gak
jadi deh” seraya menggaruk bagian pinggir lehermu yang aku yakin
itu tidak gatal sama sekali. Dan kamu terus mengulang panggilan dan
jawaban itu sampai 3 kali. Betapa lucunya kamu saat menanyakan berapa
nomor handphone ku. Aku juga ingat betapa indahnya hari kala itu.
Kala kita bermain bersama. Walaupun tidak hanya berdua. Kala kau
memaksaku untuk pergi membeli minuman denganmu, lalu kau memasang
raut wajah penuh kekecewaan ketika aku lebih memilih pergi dengan
temanmu, daripada denganmu. Kala kau terus menggoda ku hingga pipi ku
berubah warna menjadi merah layaknya apel yang diberi oleh penyihir
jahat kepada Sang Tuan Putri Salju. Kamu tidak tahu, seberapa
banyak aku tersenyum kala aku mengingat kejadian itu ketika sampai
dirumah.
Aku tidak
peduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Karna kau pun bukan
lelaki pertama yang aku cintai. Ataupun yang kedua. Tapi jika kau mau
tahu, kau lah orang yang telah mengenalkan ku kepada banyak hal.
Mengenalkan ku kepada perasaan betapa bahagianya dicintai yang aku
pikir cinta itu tulus. Sampai pada akhirnya kau juga yang mengenalkan
ku kepada perasaan kecewa dan sakit hati yang membuatku merasa
seperti mabuk dan tenggelam di dalam kekecewaan dan ke sakit hatian
yang mendalam. Amat sangat dalam.
Aku ingat,
kamu memulai dengan cara yang salah. Begitupun aku.
Untuk kamu,
Yang sempat singgah.
Terimakasih
kau selalu mengingatkan ku. Kau yang menjadi sebab aku susah tidur di
malam hari. Kau yang selalu menjadi matahari terbit di handphone ku
setiap pagi. Kau yang menjadi alasanku mengapa aku begitu bersemangat
pergi ke sekolah. Sampai pada akhirnya, kau juga yang meninggalkan ku
tanpa sebab dan alasan yang jelas. Aku yang masih sangat amat
mencintaimu. Aku yang masih menaruh hati padamu. Dan yang aku tau
setelahnya hanyalah, Cinta itu menyakitkan ketika kamu
meninggalkanku. Itu saja. Bodoh? Iya. Sangat bodoh. Terkadang aku
sendiri pun sedikit tertawa geli saat tidak sengaja teringat.
Perjalanan cinta kita sangat lucu ternyata.
Cerita cinta
memang terkadang membuat aku terbang, lalu jatuh. Dan terimakasih,
kamu telah menjadi salah satu bagian dari cerita cinta ku. Hidup
memang terasa manis seperti es krim yang aku beli di supermarket,
tapi terkadang hidup juga bisa terasa sangat pahit layaknya ampas
kopi yang tidak sengaja tertelan olehku. Dan kamu, telah menjadi
keduanya disaat yang berdekatan. Sekali lagi, terimakasih. Untuk
pernah berusaha, lalu menyerah. Untuk sempat singgah, lalu pergi. Dan
juga untuk sempat memulai, lalu mengakhiri.
Untuk kamu,
Yang sempat singgah.
Jika kamu
mengira sampai saat ini aku masih menyimpan harapan kepadamu, atau
perasaan cinta untukmu. Kamu sangat salah. Aku sudah tidak menyimpan
harapan atau perasaan cinta untukmu walaupun hanya seperdua nya dari
sedikit. Karena harapan dan perasaan itu telah lama pergi. Pergi
bersama yang dicintai.
Dan untuk
kamu, Yang sempat singgah.
Aku harap
aku dan kamu baik-baik saja. Kita bahagia bersama, melalui jalan yang
berbeda. Dan semoga saja suatu saat nanti kita akan berjumpa kembali.
Tanpa ada lagi kecanggungan. Tanpa ada lagi ke sakit hatian. Lalu
kita berbincang panjang lebar layaknya rumus persegi panjang. Dan
akan ku kenalkan seseorang kepadamu. Begitupun sebaliknya. Ya,
seseorang yang akan ku kenalkan adalah seorang laki-laki yang
membuatku tersenyum setelah kau membuatku menangis. Dan seseorang
yang kau kenalkan adalah seorang perempuan yang kau ajak tersenyum,
ketika aku menangis.
Yoi ga tuh
puisi gue? Eh tunggu, itu barusan namanya apa sih? Puisi? Ah tapi
kayanya bukan. Pantun? Yekalin aja pantun. Syair? Ah tapi kayanya
engga sih. Jujur dari awal gue bikin ini gue gatau ini namanya apaan.
Ini bukan sepenuhnya gue yang buat sih. Jadi ceritanya gue lagi buka
timeline line terus ada OA yang nge share ginian dan karangan siapa
gitu gue lupa namanya. Nah, akhirnya gue copas. Gue save di note
handphone gue terus gue revisi deh. Wkwkwk revisi. Tapi disini
kata-kata nya gue yang ngarang kok. Mayoritas gue. Ada juga yang gak
gue ubah. Tapi 98% gue ubah. Pas baca itu gue kaya langsung inget
seseorang di masa lalu gitu. Asyique. Yaudah akhirnya gue ubah aja
berdasarkan cerita gue dan seseorang di masa lalu itu. Dan gak
nyangka aja hasilnya jadi bikin gue pribadi baper bacanya. Ok
bodoamat ga penting juga.
Sekian dari
gue.
Regards,
Windy
(masih) cantique.
Baper ,jadi inget orang di masa lalu
BalasHapusSiape? Macan?wkwkw
HapusKalo lebih di pelajari lebih dalem mah, windy ada bakat buat nulis nih...
BalasHapusGood gann
Yoms, thanks gan
HapusNice
BalasHapus.visit my blog