Sabtu, 12 Maret 2016

Untuk kamu, Yang sempat singgah.

Untuk kamu, Yang sempat singgah.
Apa kabar? Lama tak jumpa. Jangankan dengan sengaja berjumpa. Tak sengaja pun kita tak pernah, seakan bumi tidak mengizinkan kita untuk berpijak di tanah yang sama. Mungkin kita akan berjumpa di lain waktu. Entah itu di pernikahanmu, atau di pernikahanku. Atau mungkin di pernikahan kita? Sudahlah tidak usah dipikirkan, aku hanya bergurau.

Mungkin jika kamu membaca ini, di benakmu akan timbul pertanyaan, kenapa aku menulis ini? Jika kamu berpikiran karna aku ingin menarik perhatianmu, sama sekali bukan. Aku menulis ini, hanya karna saat ini aku merasakan rindu. Rindu yang biasa dijumpai oleh setiap manusia. Rindu yang manusiawi. Tak pernahkah kau merindukanku? Aku harap kau merasakannya, walau hanya sedetik. Setidaknya kau ingat bagaimana susahnya berlari menggapai dan mudahnya pergi berlalu melepaskan.

Cinta kita hanyalah cinta anak-anak. Cinta monyet. Cinta yang tumbuh di dalam sebuah kotak sempit yang bernama Sekolah. Cinta yang terus tumbuh karena memandangi diam-diam dari kejauhan. Cinta yang terus tumbuh karena tak sengaja berpapasan lalu saling tersenyum karena malu nya. Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap kali namamu terdengar di telingaku. Manis bukan? Bahkan aku masih bisa merasakan kebahagiaannya, saat tidak sengaja teringat masa-masa itu.
Aku masih ingat betapa lucunya kau saat menatapku dari kejauhan. Lalu kau salah tingkah saat diriku tiba-tiba saja sadar akan dirimu yang sedang sibuk menatapku. Aku juga masih ingat betapa lucunya kamu saat berkali-kali kau memanggilku lalu ketika aku bertanya “ada apa?” kau hanya terdiam. Menahan malu. Lalu akhirnya kau menjawab “gak jadi deh” seraya menggaruk bagian pinggir lehermu yang aku yakin itu tidak gatal sama sekali. Dan kamu terus mengulang panggilan dan jawaban itu sampai 3 kali. Betapa lucunya kamu saat menanyakan berapa nomor handphone ku. Aku juga ingat betapa indahnya hari kala itu. Kala kita bermain bersama. Walaupun tidak hanya berdua. Kala kau memaksaku untuk pergi membeli minuman denganmu, lalu kau memasang raut wajah penuh kekecewaan ketika aku lebih memilih pergi dengan temanmu, daripada denganmu. Kala kau terus menggoda ku hingga pipi ku berubah warna menjadi merah layaknya apel yang diberi oleh penyihir jahat kepada Sang Tuan Putri Salju. Kamu tidak tahu, seberapa banyak aku tersenyum kala aku mengingat kejadian itu ketika sampai dirumah.
Aku tidak peduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Karna kau pun bukan lelaki pertama yang aku cintai. Ataupun yang kedua. Tapi jika kau mau tahu, kau lah orang yang telah mengenalkan ku kepada banyak hal. Mengenalkan ku kepada perasaan betapa bahagianya dicintai yang aku pikir cinta itu tulus. Sampai pada akhirnya kau juga yang mengenalkan ku kepada perasaan kecewa dan sakit hati yang membuatku merasa seperti mabuk dan tenggelam di dalam kekecewaan dan ke sakit hatian yang mendalam. Amat sangat dalam.

Aku ingat, kamu memulai dengan cara yang salah. Begitupun aku.

Untuk kamu, Yang sempat singgah.
Terimakasih kau selalu mengingatkan ku. Kau yang menjadi sebab aku susah tidur di malam hari. Kau yang selalu menjadi matahari terbit di handphone ku setiap pagi. Kau yang menjadi alasanku mengapa aku begitu bersemangat pergi ke sekolah. Sampai pada akhirnya, kau juga yang meninggalkan ku tanpa sebab dan alasan yang jelas. Aku yang masih sangat amat mencintaimu. Aku yang masih menaruh hati padamu. Dan yang aku tau setelahnya hanyalah, Cinta itu menyakitkan ketika kamu meninggalkanku. Itu saja. Bodoh? Iya. Sangat bodoh. Terkadang aku sendiri pun sedikit tertawa geli saat tidak sengaja teringat. Perjalanan cinta kita sangat lucu ternyata.

Cerita cinta memang terkadang membuat aku terbang, lalu jatuh. Dan terimakasih, kamu telah menjadi salah satu bagian dari cerita cinta ku. Hidup memang terasa manis seperti es krim yang aku beli di supermarket, tapi terkadang hidup juga bisa terasa sangat pahit layaknya ampas kopi yang tidak sengaja tertelan olehku. Dan kamu, telah menjadi keduanya disaat yang berdekatan. Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah berusaha, lalu menyerah. Untuk sempat singgah, lalu pergi. Dan juga untuk sempat memulai, lalu mengakhiri.

Untuk kamu, Yang sempat singgah.
Jika kamu mengira sampai saat ini aku masih menyimpan harapan kepadamu, atau perasaan cinta untukmu. Kamu sangat salah. Aku sudah tidak menyimpan harapan atau perasaan cinta untukmu walaupun hanya seperdua nya dari sedikit. Karena harapan dan perasaan itu telah lama pergi. Pergi bersama yang dicintai.
Dan untuk kamu, Yang sempat singgah.
Aku harap aku dan kamu baik-baik saja. Kita bahagia bersama, melalui jalan yang berbeda. Dan semoga saja suatu saat nanti kita akan berjumpa kembali. Tanpa ada lagi kecanggungan. Tanpa ada lagi ke sakit hatian. Lalu kita berbincang panjang lebar layaknya rumus persegi panjang. Dan akan ku kenalkan seseorang kepadamu. Begitupun sebaliknya. Ya, seseorang yang akan ku kenalkan adalah seorang laki-laki yang membuatku tersenyum setelah kau membuatku menangis. Dan seseorang yang kau kenalkan adalah seorang perempuan yang kau ajak tersenyum, ketika aku menangis.

Yoi ga tuh puisi gue? Eh tunggu, itu barusan namanya apa sih? Puisi? Ah tapi kayanya bukan. Pantun? Yekalin aja pantun. Syair? Ah tapi kayanya engga sih. Jujur dari awal gue bikin ini gue gatau ini namanya apaan. Ini bukan sepenuhnya gue yang buat sih. Jadi ceritanya gue lagi buka timeline line terus ada OA yang nge share ginian dan karangan siapa gitu gue lupa namanya. Nah, akhirnya gue copas. Gue save di note handphone gue terus gue revisi deh. Wkwkwk revisi. Tapi disini kata-kata nya gue yang ngarang kok. Mayoritas gue. Ada juga yang gak gue ubah. Tapi 98% gue ubah. Pas baca itu gue kaya langsung inget seseorang di masa lalu gitu. Asyique. Yaudah akhirnya gue ubah aja berdasarkan cerita gue dan seseorang di masa lalu itu. Dan gak nyangka aja hasilnya jadi bikin gue pribadi baper bacanya. Ok bodoamat ga penting juga.

Sekian dari gue.
Regards,

Windy (masih) cantique.